Senin, 12 Desember 2011

seorang antropolog

Dua antropolog terbang ke kepulauan di laut selatan untuk mempelajari suku pribumi
Mereka pergi ke dua pulau yang berdekatan dan mulai bekerja
Beberapa bulan kemudian salah satu dari mereka mengambil sampan ke pulau lain untuk melihat apa yang dilakukan rekannya
Ketika ia sampai di sana ia menemukan antropolog lain berdiri di antara kelompok penduduk asli
Salam Bagaimana kabar?
kata antropolog mengunjungi.
Bagus! kata yang lain
Saya telah menemukan suatu fakta yang penting tentang bahasa lokal sini! Lihatlah!
Dia menunjuk pohon kelapa dan berkata
Apa itu?
Penduduk asli bersama-sama mengatakan
Umbalo-gong!
Dia lalu menunjuk pada batu dan berkata
Dan itu?
Penduduk asli lagi melagukan
Umbalo-gong!
Lihatlah! Kata antropolog berseri-seri
Mereka menggunakan kata SAMA untuk Batu
Dan untuk Pohon Kelapa
Itu benar-benar menakjubkan!
Kata antropolog satunya heran
Di pulau sebelah kata tadi berarti Jari telunjuk.

Kamis, 01 Desember 2011

Hari Paling Sial

Seorang pria yg sedang putus asa berdiam di bar selama satu setengah
jam cuma memandangi minumannya. Seorang pengemudi truk yg baru
datang langsung meneguk habis isi gelas itu. Si pria langsung menangis.
“Hei, jangan nangis, gitu, dong!” seru si pengemudi truk. “Aku cuma bercanda.
Aku beliin minuman lagi, deh!”
“Bukan, nggak usah. Hari ini merupakan hari terburuk dalam hidupku. Pertama,
aku telat ke kantor. Bosku marah besar dan aku dipecat. Ketika mau pulang,
ternyata mobilku dicuri orang. Trus, pas naek  taksi, ternyata dompet dan kartu
kreditku ketinggalan di dalamnya. Sampai rumah, istriku tidur dengan tukang
kebun. Aku meninggalkan rumah dan datang ke bar ini. Dan pas aku berpikir
untuk mengakhiri hidupku, kau muncul dan meminum racunku.”

enakan ibu


Di suatu sudut di kota Jakarta tinggal sebuah keluarga yang kelihatannya
cukup bahagia. Rumah bagus dengan halaman luas, punya mobil mewah, seorang
Istri yang cantik dan bekerja pada sebuah Perusahaan bonafid, dua orang
anak yang sedang lucu-lucunya, seorang Pembantu bernama Inem dan seorang
Supir pribadi bernama Parto.
Mungkin di karenakan pekerjaan si Istri yang sangat sibuk (maklum  Executive
Secretary) sehingga sering pulang malam dan dalam keadaan sangat  lelah.
Setelah sampai di rumah paling si Istri hanya sempat melihat kedua anaknya
yang sudah tidur di kamar lalu mandi dan pamit pada suaminya yang sedang
nonton Teve untuk tidur. Sehingga walaupun si suami sudah tidak kuliah  lagi
(sudah bekerja) tapi akhirnya dia mendapat gelar S3 (Sebulan Sekali  Setor).
Untuk satu atau dua bulan memang masih tahan, tapi akhirnya  uring-uringan
juga.
> > Akhirnya dia putuskan untuk cari sasaran lain. Setelah pikir punya pikir
akhirnya pilihan jatuh pada Inem sang Pembantu) selain biaya murah juga
untuk meminimkan resiko AIDS.
Setelah berjalan sekian lama suatu saat si pembantu (P) tanya pada sang
Majikan (M).
P : ” Pak, enak mana sama Ibu . . . ? ”
M : ” Yachhh .. . . Jelas enak kamu dong Nem . . ”
P : ” Ach . . . Masa sih Pak, bukannya enak Ibu . . ? ”
M : ” Kan Saya udah sering bilang jauh lebih enak kamu . . . ”
Tetapi dengan lugunya Inem berkata : ” Tapi Kata Parto kok Lebih enakan Ibu”
M : “?!?!??!?!??!? “